Menu Yang Disajikan SPPG Yayasan Dhiaul Fikri Sukarara Untuk Siswa Di Nilai Tidak Memenuhi Standar Gizi

Dompu, NTB, Tintaupdat.com – Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program unggulan pemerintah Indonesia yang dimulai tahun 2025 untuk menyediakan makanan sehat bagi anak sekolah, balita, serta ibu hamil/menyusui.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi, menekan stunting, serta meningkatkan fokus belajar siswa.

Namun menu MBG yang di suguhkan SPPG Yayasan Dhiaul Fikri Sukarara di Kelurahan Karijawa Kecematan Dompu Kabupaten dinilai tidak memenuhi standar Gizi

Hal itu diungkapkan oleh seorang wali murid, Asal Kelurahan Potu, Adi Supriyadin pada awak media, di Gedung Pemuda Dompu, Selasa, (10/03/26), kemarin.

Adi Supriyadin membeberkan bahwa menu Gizi yang diterima oleh anaknya yang bersekolah di SMPN 4 Dompu jauh dari kata Gizi, apabila merujuk pada Gizi yang pada program tersebut.

“Karena setiap hari, anak-anak hanya dikasih menu kacang asing, setahu saya kacang asing ini kan kolesterolnya tinggi, kemudian buah juga kadang tidak sesuai porsi, itu yang menjadi masalahnya,” ungkap Adi Supriyadin sambil memperlihatkan foto porsi beberapa sampel menu.

Menurutnya, menu Gizi yang dibagikan ke disiswa2 itu harusnya sesuai dengan porsi Rp. 10 ribu,” minimal porsi 8-7 ribu, jangan sampai porsi 5-6 ribu, jauh sekali apa yang diharapkan gizinya, karena semakin besar biayanya, tentu semakin banyak Gizinya,” katanya.

Foto, beberapa Sample menu 

Oleh karena itu, Adi mempertanyakan tugas ahli Gizi di MBG, modelnya seperti apa, kalau menu Gizinya demikian,” jangan2 ahli Gizinya terhipnotis dengan keuntungan besar untuk MBG ini,” ucapnya sinis.

Maka, secara keseluruhan, Kata Adi, bahwa menu Gizi yang diterima oleh anak-anak itu jauh dari kata tidak layak.

“Seperti contoh SSPG Lewidewa Soromandi jadi setiap menu yang dibagikan itu tetap dilampirkan semua, nilai Gizinya berapa, harganya berapa! jadi kita tau kadar Gizinya berapa, dan harga satuan per/MBG ini berapa? itu jelas semua,” paparnya

Wali Murid juga mengatakan bahwa menu Gizi di SPPG tersebut, sudah sering kita keluhkan di medsos, tetapi tidak pernah direspon oleh pihak-pihak yang mengawasi program MBG.

Oleh karena itu, Adi menekankan kepada Koordinator atau Pengawas MBG Provinsi NTB, agar memperketat pengawasan terhadap nilai Gizinya

Karena ini menyangkut Gizi untuk anak-anak kedepannya, sebab Gizi ini salah satu penentu kecerdasan anak.

“Jangan hanya menunggu laporan diatas kertas, tapi MBGnya juga diawasi, agar Gizinya tetap terjaga,” ujarnya penuh harap.

Senada juga yang disampaikan oleh Wali murid Lainnya yang tidak mau disebutkan namanya dalam pemberitaan, mengatakan bahwa sebagian menu yang disajikan oleh SPPG tersebut diduga kuat tidak memenuhi standar Gizi,

“Karena kampir setiap hari itu, disajikan menu kacang asing, dan jajan2 yang diduga menggunakan bahan pengawet,” ungkapnya.

Sementara, salah satu dari pihak SPPG Yayasan Dhiaul Fikri Sukarara, yang di Konfirmasi Media di kantornya di jalan baru kelurahan Karijawa, enggan memberikan komentar.

“Jangan dulu direkam, kita diskusi biasa saja dulu, ” katanya menolak diwawancarai oleh awak media.